Kembali Ke Visi Tuhan; Spiritualitas Demokrasi


Tampak “emosional” judul ini memang, apalagi bagi penganut fanatik faham positivistik[1] secara ketat. Sebetulnya mudah bagi penulis untuk mendaratkannya menjadi “realistis” sehingga “terukur”, dan tidak terkesan “membela langit”. Tetapi, bagaimanapun, formulasi dan konseptualisasi ini tidak “sekedar teori” ataupun mencoba “ber-teori”. Inilah ekspresi “pergulatan politik praktis” seorang dosen IAIN (yang lazimnya dituntut bersikap objektif dan rasional) ketika berhadapan dengan para politisi dari partai-partai besar, yang kaya pengalaman (segala cara), dan terutama sekali didukung finansial yang kuat (kekayaan calon bupati terpilih 44 milyar –data KPUD– sementara penulis sebesar 137 Juta ).

Refleksi Kritis

  • Apa komentar kita tentang fenomena korupsi di Indonesia yang nyaris setiap saat “didendangkan” di berbagai media massa? Apakah ada hubungannya dengan sistem dan perilaku aktor-aktor politik? “Negara yang kaya ini mengapa tidak mampu mensejaterakan rakyatnya?
  • Apa lagi yang bisa kita katakan tentang perseteruan institusi-institusi negara, yang mestinya bekerja melayani dan memakmurkan rakyat, tetapi justru memamerkan adegan-adegan politik yang cenderung “menyakiti rakyat”? Bahkan seringkali mengundang kegelisahan akademik kita ?
  • Negara ini dibangun untuk tujuan; (1) membentuk pemerintahan yang melindungi rakyat (2) memajukan kesejahteraan umum; (3) mencerdaskan kehidupan bangsa. Setelah 67 tahun lalu dipancangkan oleh pendiri negara dalam konstitusi, maka sudah saatnya kita mempertanyakan, seberapa besar tujuan ber-negara (ber-eksistensi sebagai Indonesia) dikerjakan/diwujudkan oleh sistem politik yang mengatur, menata (mengendalikan) negara saat ini?
  • Negara gagal? (more…)

ALIKUSU: Pintu Gerbang Lailatul Qadar!


Alikusu / Arkus, (fotodoc hulondhalo.com)

“Tiada kehidupan tanpa pintu”. Pintu, sekali lagi, adalah sesuatu yang begitu dekat dengan kehidupan kita. Bahkan, meski tak bisa diingat lagi kapan dan bagaimana rasanya, kita pun sesungguhnya hadir di dunia ini melalui sebuah “pintu” khusus dan akhirnya kita harus pamit dari dunia ini, juga melalui “pintu khusus”. Lailatul Qadar pun sangat boleh jadi memasuki alam kemanusiaan kita melalui “pintu khusus”
ALIKUSU, yang juga sering disebut ARKUS, yaitu semacam pintu gerbang yang dibikin di depan rumah. Biasanya dibuat ketika memasuki tiga hari terakhir ramadhan. Alikusu sendiri sebetulnya merupakan satu bentuk kreatifitas budaya yang kemudian melengkapi bahkan memberi muatan spiritual pada tumbilotohe. (more…)

Mempertautkan “IDE-IDE LANGIT” dan “KEPENTINGAN BUMI”


Tantangan yang  paling berat dalam konteks kehidupan beragama saat ini adalah bagaimana membawa ajaran yang  bersemayam pada wilayah normativitas kepada level realitas kehidupan manusia di bumi. Dalam ungkapan lain, bagaiman ajaran atau “pesan-pesan langit” yang  terepresentasi ke dalam “kitab suci” dapat diterjemahkan, baik dalam bentuk pemahaman dan penghayatan maupun dalam aktifitas kemanusiaan yang  konkret. Dalam hubungan ini, W.C. Smith menyoroti bahwa di antara yang  selalu menjadikan problem bagi setiap muslim kapan dan di mana pun mereka berada adalah bagaimana menyesuaikan antara ajaran ideal Islam dan realitas dalam masyarakat.[1] Smith tampaknya mengingatkan kita bahwa tema sentral dalam Alquran seperti perdamaian, keselamatan dan keadilan, mestinya tidak menjadi pesan-pesan yang  utopis dan mandul. Pada sisi lain, agaknya  Smith benar. Ajaran ideal (dalam teks-teks suci ) memang harus dipahami dan dimaknai secara cerdas dan komprehensif, kemudian diterjemahkan secara konkret dan utuh kedalam relitas keberagamaan. Tegasnya, pesan-pesan ilahiah; perdamaian, keselamatan dan keadilan harus menjadi ruh sekaligus energi yang  mengalir dalam nadi kehidupan umat Islam. Jadi, idealitas dan realitas akan terajut erat dan bersinergi secara langgeng.

Kendati demikian, di sisi lain, tesis Smith ini boleh digugat lantaran problema “posisi berhadap-hadapan” antara idealitas dan realitas sangat mungkin menjadi problem agama-agama, jadi ia tidak saja mendera umat Islam. (more…)

Masa Depan POLIGAMI


Di penghujung 2009 lalu, saya menghadiri resepsi pernikahan seorang kerabat di Graha Misfalah. Lantunan lagu-lagu romantis kian membalut suasana cerah ceria di balik senyuman dan pakaian warna-warni para undangan.Tampaknya sih semua serba baru, Biasalah. Dekorasi singgasana “raja dan ratu semalam” pun kian menambah anggunnya “deklarasi pasangan calon” penghuni bahtera rumah tangga malam itu.

Sayangnya, suasana yang bagi saya serba asyik ini tidak bertahan hingga pesta usai. Saya merasa sangat terusik ketika pemberi nasihat perkawinan, yang nota bene salah seorang dai kondang di Gorontalo memberi penjelasan yang tidak adil. Katanya “di dalam al-Qur’an ada anjuran untuk menikah 2,3, atau 4 (poligami) tetapi kita jangan menikah lebih dari 1” Menurut saya, pandangan seperti ini mungkin tidak keliru TETAPI tanpa ia sadari akan berujung pada pembangkangan terhadap firman Tuhan. Mestinya ada penjelasan yang memadai dan komprehensif tentang poligami ala al-Qur’an. Saya menduga 2 hal dari sang penceramah. Pertama, ia betul-betul menyederhanakan pesan-pesan Ilahi tentang poligami, yang sesungguhnya amat dalam kandungannya. Dan kedua, ia menganggap tidak akan ada perkembangan yang dahsyat dalam kehidupan ummat manusia di masa depan. (more…)

Gempa dan Tsunami : “Suruhan” Tuhan?


Akibat Gempa

Akibat Gempa

Sekali lagi, fenomena alam yang ”singgah” di pulau Sumatra menunjukkan kedahsyatan daya penghancurnya. Melihat dan mendengarnya saja kita tidak tega, apalagi mereka yang merasakan secara langsung bencana itu. Belakangan ini muncul komentar-komentar yang sangat beragam, tudingan miring, bahkan tak jarang pula kita dengar spekulasi-spekulasi teologis yaitu membawa-bawa nama Tuhan dalam menguatkan argumentasinya.

Mungkinkah “Tuhan sudah bosan melihat tingkah kita?” (menyetir lirik lagu Ebit G. Ade)­­­ Pembaca yang budiman, sebaiknya kita mengkaji lebih dalam masalah ini agar kita tidak terbenam dalam kubangan sentimen-sentimen subjektif. Menuduh Barat, merendahkan Aceh apalagi sampai “menggugat” dan menduga-duga Tuhan tidak lagi Maha Adil. Secuil pemikiran berikut ini mencoba menguak bentangan dimensi teologis dalam masalah ini. (more…)

Menggugat Pendidikan Kita


Thariq Modanggu

Thariq Modanggu

Dari sisi idealita politik, sesungguhnya pendidikan  berperan sangat penting dalam pencapaian salah satu tujuan bernegara yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa. Negara, bahkan memberi penghargaan kepada pendidikan nasional dengan alokasi anggaran 20 %. Akan tetapi, dari sisi realita politik, pendidikan dalam hal ini para guru yang sesungguhnya bertugas “membebaskan” manusia dari kemiskinan dan kebodohan, di beberapa daerah cenderung “dibelenggu” demi mengamankan kepentingan politik orang-orang atau kelompok tertentu. Kemampuan guru berinteraksi dengan masyarakat cenderung lebih dihargai sebagai corong politik yang murah meriah.

Sementara itu, dari sisi realita kependidikan kita, munculnya sekolah-sekolah unggulan memberi angin segar bagi perbaikan sistem pendidikan kita. Awalnya saya senang, sebab akan muncul generasi yang cerdas dan berkualitas. Belakangan saya menyadari, kehadiran sekolah-sekolah unggulan mengundang ancaman bagi kemanusiaan kita di masa depan.  Batapa tidak, sekolah unggulan ternyata   hanya terbuka lebar bagi anak-anak pejabat dan orang berkantong tebal yang jumlahnya tidak seberapa, dibanding anak-anak yang hidupnya pas-pasan apalagi miskin.  Akibatnya, kualitas lembaga pendidikan ditentukan oleh uang, dan bukan oleh kecintaan kita terhadap manusia lainnya. Sebaliknya, orang-orang miskin hanya bisa mengenyam pendidikan yang apa adanya, yang penting sudah bisa mengajarkan baca tulis. Di masa depan, menurut saya, kelas-kelas dalam masyarakat bakal kian menguat.  Orang-orang berduit  makin pintar dan makin menguasai orang-orang miskin. Mudah-mudahan anggapan saya ini keliru! (more…)

Awas Drakula Gaya Baru!


Thoriq Modanggu

Thoriq Modanggu

Sesosok bayangan berkelebat cepat di antara pepohonan. Tatkala melewati sepasang muda-mudi yang lagi asyik-masuk di bangku taman, bayangan itu mendadak berhenti. Menilik penampilannya yang rapi dan berdasi sekilas orang itu tampak seperti pejabat. Tiba-tiba dari mulutnya yang menyeringai rakus, perlahan-lahan muncul sepasang gigi taring. Lidahnya yang panjang dan tampak kemerahan itu bergerak gemulai di antara gigi taringnya. Iiiih, ternyata dibalik penampilan yang keren tersingkap kebuasan. Sialan!

Bahaya yang tengah mengintip itu agaknya tak disadari sepasang cucu adam yang tengah “menodai cintanya”. Makhluk bertaring itu perlahan-lahan mendekat. Rupanya, si laki-laki yang pertama melihat kemunculan Sang pengisap darah dari balik pepohonan. Tanpa pikir panjang laki-laki itu mendorong pasangannya lalu memainkan jurus “langkah seribu”. Dasar laki-laki!

Dalam posisi terjerembab si wanita hanya bisa berteriak minta tolong sesaat lalu menjerit untuk kemudian bungkam selamanya. Makhluk berdasi itu kemudian berdiri membusungkan dada sambil menyeringai kepuasan. “Akulah Drakula”

Jika Drakula dalam fragmen di atas doyan mengisap darah seorang anak manusia, maka hati-hati, di sekitar kita kini gentayangan “Drakula Gaya Baru ” yaitu orang-orang yang juga gemar “mengisap darah”. Anehnya jenis Drakula tidak hanya menampakkan dirinya sebagai makhuk berdasi yang gentayangan di malam hari, tetapi juga gentayangan kantor-kantor pemerintahan dan gedung-gedung –yang katanya– wakil rakyat. Itulah para koruptor.

Mana yang lebih berbahaya, Drakula atau Drakula baru ini? Kalau Drakula hanya mengisap darah seseorang yang kebetulan menjadi mangsanya, maka Drakula Baru secara sadar dan terencana “mengisap darah rakyat”, merusak generasi manusia, dan menantang Titah Ilahi; bahwa manusia wajib memanusiakan sesama manusia (silaturrahmi, red), bukan sebaliknya, “manusia memangsa manusia lain”.

Lantas, bagaimana cara mengatasi makhluk perusak masyarakat ini? Kalau kita lihat dalam film-film, Drakula sangat takut dan akan hancur-lebur kalau kena sinar matahari. Karena itu, Drakula Gaya Baru ini hanya bisa diatasi dengan penerangan dan pencerahan. Guru-guru yang mencerahkan, pemerintah yang mencerahkan. Polisi, jaksa, hakim, dan juga  pengusaha/kontrakan yang mencerahkan.

Predikat atau jabatan-jabatan keduniaan yang bersifat sementara ini semestinya memang melakukan kerja penerangan dan pencerahan kepada masyarakat, dan bukan sebaliknya, mempersulit dan memberatkan masyarakat. Kalau tidak, maka kehidupan ini senantiasa akan diganggu oleh perilaku drakula yang punya jabatan. Akibatnya, bumi ini tidak aman untuk dari ulah mereka yang tidak bertanggungjawab.

Tuhan, percikkanlah sinar pencerahanmu kepada Drakula-drakula Baru, sehingga mereka kembali menjadi manusia biasa!

Statistik

  • 7,776 kali dilihat

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 1 other follower

September 2014
M T W T F S S
« Dec    
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
2930  
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.