Peradaban Tauhid

Home » Alam » Ketika Burung Memberaki tuhan

Ketika Burung Memberaki tuhan

Thariq Modanggu

Thariq Modanggu

Sekitar medio Juni (2004) lalu, penulis mengikuti pengajian ba’da zhuhur di masjid istiqlal Jakarta. Salah seorang pengurus masjid, yang bergelar doktor, meminta masukan dari jama’ah soal burung yang tinggal di masjid terbesar di Asia Tenggara itu. “Sudah berbagai cara dilakukan tapi burung-burung itu tetap tinggal di dalam masjid”. Begitu keluhan sang doktor sambil menunjuk ke arah burung-burung itu. Sesaat penulis menengok ke atas bagian mihrab. Ternyata benar, burung-burung itu bahkan hinggap dan berak diukiran berbahan bakar tembaga yaitu di sebelah kiri Muhammad, di tengah Laila illa Allah dan sebelah kanan Allah.

Jika pengurus masjid istiqlal hanya mempersoalkan kotoran burung yang jatuh di depan tempat sujud saf awal (masalah fiqh), maka yang disoroti dalam kajian ini adalah kotoran burung, yang notabene najis, mengotori tulisan-tulisan suci itu. Fenomena ini sangat mungkin terjadi juga di daerah lain, apalagi di daerah-daerah pelosok atau pedalaman

Orang boleh berkomentar, mungkin juga pembaca, bahwa yang diberaki burung itu bukan dzat Tuhan melainkan hanya tulisan atau simbol. Apa betul? Masih ingat peristiwa Merci di tahun 90-an?. Gara-gara isu kertas copian ayat-ayat al-Qur’an dijadikan pembungkus, masa mahasiswa dan pelajar Islam secara spontanitas nyaris menghancurkan toko milik cina, yang begitu berjaya ketika itu. Pemerintah kota Gorontalo pun kemudian mengeluarkan peraturan, ayat-ayat qur’an hanya boleh dicopi jika disertai surat keterangan dari instansi terkait. Lantaran dianggap menyusahkan, kebijakan itu pun beberapa saat kemudian dicabut.

Berbicara soal agama, apalagi soal Tuhan memang tidak bisa dipisahkan yang namanya simbol-simbol di satu sisi, dan hakekat atau esensi di sisi yang lain. Dalam hal ini, pertanyaannya kemudian, mana yang kita pilih, apakah simbol /tulisan ataukah substansi/hakekatnya?. Beragam jawaban tentu akan muncul, sesuai tingkat pemahaman dan penghayatan kita masing-masing. Jika alternatif pertama yang dipilih, maka kita akan mensakralkan, memuja segala sesuatu yang berbau simbolis: songkok, jenggot, sorban, bentuk kuba, mimbar, tunggudu, dll. Sebaliknya, jika yang dipilih alternatif terakhir, maka segala bentuk simbolisasi agama menjadi sesuatu yang relatif, boleh ya boleh tidak. Boleh ada, boleh juga tidak!.

Lantas, kalau burung memberaki Tuhan (simbolnya) apakah karena mereka penganut hakekat atau substansialis?. Sepintas lalu kita bisa menjawab “tidak”, karena burung memang tidak punya akal-pikiran. Tapi jangan lupa, dalam konteks ini, burung ataupun makhluk Tuhan lainnya, tidak sesederhana pikiran kita yang sederhana. Maklumat-Nya dalam al-Qur’an: yusabbihu lahu maa fi al-samawati wa al-ard. Segala yang ada di alam ini bertasbih kepada Tuhan. Hanya bedanya, ketundukan makhluk non-manusia adalah ketundukan total. Sekali Tuhan menciptakannya dalam bentuknya yang standar, maka begitu seterusnya keadaan dirinya. Meskipun ada yang namanya proses atau tahapan adaptasi dengan lingkungannya, tetapi sesungguhnya mereka tidak sanggup secara kreatif merubah dirinya.  Sementara itu, ketundukan manusia adalah ketundukan yang dinamis. Hari ini sadar, besok lupa diri. dulu penjahat, sekarang penceramah, dan begitu pula sebaliknya. Tempo hari miskin, sekarang kaya, dan seterusnya.

Kelebihan burung dari manusia adalah bahwa mereka hanya memberaki simbol-simbol Tuhan. Burung samasekali tidak pernah bikin sesuatu atau pekerjaan diluar kehendak-Nya. Yang jantan tidak mencoba-coba yang sesuatu yang hanya cocok bagi betina, begitu pula sebaliknya. Burung pun tidak pernah makan dan minum kecuali yang direkomendasikan Tuhan bahwa itu makanan dan minuman yang halal dan baik bagi burung. Singkat kata burung tidak pernah melecehkan nilai-nilai ketuhanan.

Lantas bagaimana dengan manusia?. Kehebatannya adalah bahwa sebejat-bejatnya moral seseorang, ia pasti tidak akan berani memberaki simbol-simbol Tuhan. Sebaliknya, manusia, apalagi orang beragama cenderung menghormatinya. Dahawa mao kuruani boito uti, wanudila pootapulo dusa (jaga kasana qur’an itu uti, kalu tidak modapa dosa). Tapi ironisnya, tak jarang kita hanya mengagungkan atau mensakralkan simbol-simbol-Nya tapi dalam banyak hal sering melecehkan nilai atau makna dibalik simbol-simbol tersebut. Misalnya, al-Qur’an mengingatkan kita dengan sangat keras, “Sesungguhnya syirik itu senyata-nyata kezaliman”. Logika tafsir mengatakan bahwa zalim atau tidak adil itu adalah bagian dari syirik. Disinilah masalahnya. Di lingkungan kita kerap terjadi praktek-praktek syirik seperti ketidakadilan yang sesungguhnya sangat membahayakan nilai-nilai kemanusiaan. Kita dengar dan kita baca banyak keluhan soal ketidakadilan di kantor-kantor, baik di lingkungan pemerintah, swasta ataupun lembaga-lembaga kemasyarakatan. Bahkan konon katanya, di lembaga peradilan sekalipun, keadilan tampaknya menjadi “binatang langka”. Nah, beginilah akibatnya kalau kita terlalu mengagung-agungkan dan mensakralkan simbol-simbol agama. Sehabis ngaji kita ciumi al-Qur’an lantaran ia wahyu Tuhan. Tetapi soal pemahaman dan penerapan  isinya? “yah kapan-kapan sajalah. Nanti juga ada saatnya” begitu biasanya kita membela diri dalam hati.   Setelah kita ”takbir” mengakui kebesaran Tuhan, tetapi setelah itu kita lebih takut atasan –karena takut dimutasi atau dipecat—daripada menegakkan kebenaran-Nya.

Ironisnya, kita begitu tersinggung ketika seorang Arswendo Atmowiloto membuat semacam jejak pendapat atau poling tentang tokoh-tokoh, yang hasilnya menempatkan Nabi Muhammad dibawah posisi Soeharto, Iwan Fals, dan tokoh-tokoh lainnya. Sampai-sampai Arswendo divonis hukuman penjara. Tetapi anehnya kita tidak tersinggung ketika seseorang atau sekelompok masyarakat yang mengaku penganut ajaran Muhammad tetapi melecehkan nilai-nilai ajaran dan keteladanan nabi saw.  Ketika rasulullah naik unta dan menjumpai orang yang jalan kaki, rasul pun akan turun dan mempersilahkan oleh itu gantian dengan beliau. Sekarang ini, apakah pejabat dan orang-orang kaya yang mengaku sebagai pengikut nabi (malah katanya fanatik) yang ketika naik mobil mempersilahkan rakyat kecil yang berdiri di tepi jalan? Tanyakan pada rumput yang bergoyang, kata Ebiet G. Ade. Wallahu a’lam bissawab.


1 Comment

  1. tawaf says:

    idaksalah apa yang di katakan Rasulullah dalam hadist kudsi ” all islamu ghorib pama ghoribun” islam itu datangnya asing maka suatu saat akan menjadi asing kembali ‘ dalam artian bahwa baknyak yang mengaku islam tapi mereka meningkalkan islam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: