Peradaban Tauhid

Home » Manusia » Masa Depan POLIGAMI

Masa Depan POLIGAMI

Di penghujung 2009 lalu, saya menghadiri resepsi pernikahan seorang kerabat di Graha Misfalah. Lantunan lagu-lagu romantis kian membalut suasana cerah ceria di balik senyuman dan pakaian warna-warni para undangan.Tampaknya sih semua serba baru, Biasalah. Dekorasi singgasana “raja dan ratu semalam” pun kian menambah anggunnya “deklarasi pasangan calon” penghuni bahtera rumah tangga malam itu.

Sayangnya, suasana yang bagi saya serba asyik ini tidak bertahan hingga pesta usai. Saya merasa sangat terusik ketika pemberi nasihat perkawinan, yang nota bene salah seorang dai kondang di Gorontalo memberi penjelasan yang tidak adil. Katanya “di dalam al-Qur’an ada anjuran untuk menikah 2,3, atau 4 (poligami) tetapi kita jangan menikah lebih dari 1” Menurut saya, pandangan seperti ini mungkin tidak keliru TETAPI tanpa ia sadari akan berujung pada pembangkangan terhadap firman Tuhan. Mestinya ada penjelasan yang memadai dan komprehensif tentang poligami ala al-Qur’an. Saya menduga 2 hal dari sang penceramah. Pertama, ia betul-betul menyederhanakan pesan-pesan Ilahi tentang poligami, yang sesungguhnya amat dalam kandungannya. Dan kedua, ia menganggap tidak akan ada perkembangan yang dahsyat dalam kehidupan ummat manusia di masa depan.

Pembaca yang budiman,
Saya memprediksi, di masa depan poligami akan menjadi sesuatu yang wajar, tidak akan diperdebatkan, bahkan negara pun akan menghapus larangan poligami bagi PNS (itupun kalau di masa depan masih ada negara apalagi PNS). Masa depan yang saya maksud adalah masa ketika ummat muslim telah mencapai:

  • Tingkat kecerdasan yang tinggi. Pada tahap ini keputusan menikah bukan lagi lahir dari pertimbangan subjektif. Misalnya suami menikah lagi lantaran tidak lagi mencintai dan menyayangi istrinya. Para istri tidak lagi menganggap suaminya kawin lagi karena merendahkan apalagi menghianati dirinya. Dan, istri ke-2 atau ke-3 atau ke-4 tidak menganggap dirinya sebagai pesaing istri sebelumnya.
  • Tingkat kesejahteraan yang tinggi. Ketika orang-orang sudah sejahtera maka tidak ada persoalan ketidakadilan secara materil, antara suami dan para istrinya
  • Tingkat kesadaran beragama yang tinggi. Pada tingkat ini, kebutuhan untuk berpoligami dipandang sebagai sarana untuk membuktikan kebesaran rahmat Allah, dan juga sebagai upaya mendekatkan diri kepada-Nya.
  • Tingkat penghayatan kemanusiaan yang tinggi. Dalam konteks ini, berpoligami dijalani sebagai proses penghargaan yang tinggi antar sesama, baik suami kepada istri-istrinya maupun antar sesama istri. Dengan kata lain, poligami akan menjadi ukuran tingkat kemanusiaan seseorang, baik dalam posisi sebagai istri maupun sebagai istri.

Tentu saja, keempat kondisi di atas akani dianggap mustahil dalam pandangan orang-orang yang hidup di zaman sekarang ini, yang melihat dan merasakan bahwa poligami lebih banyak didorong oleh hawa nafsu, tidak puas lagi dengan istri sebelumnya, serta setumpuk pandangan dan sikap yang merendahkan istri pertama atau sebelumnya. Tetapi, sekali lagi, saya berpendapat bahwa perkembangan ummat manusia dalam beberapa generasi ke depan bukan tidak mungkin akan menuju pada keempat kondisi cenderungan di atas.

Kesimpulan sementara:

  • Keempat kecenderungan di masa depan itu menjadi pertanda bahwa poligami ala al-Quran adalah standar maksimal yang ditentukan oleh Tuhan. Sebab, al-Qur’an adalah kitab sepanjang zaman, dan karena itu wahyu Tuhan ini menjadi sangat akomodatif terhadap perkembangan zaman.
  • Orang-orang yang ingin berpoligami sekarang ini tidak perlu dihalangi jika keempat prasyarat di atas sudah bisa dipenuhi.
  • Kesadaran berpoligami berbanding lurus dengan keempat kondisi (peradaban) di atas. Artinya, semakin tinggi peradaban manusia maka semakin tinggi kesadaran berpoligami.

Salam hormat saya untuk manusia masa depan..!
Satu harapan saya, jika prediksi ini keliru maka saya mohon pada kalian (manusia masa depan) agar kasi info ke saya. Ya saya kira kalian bisa temukan saya kalau bukan di sorga, ya di neraka, atau bisa juga tempat lain yang dikehendaki-Nya, yang pantas untuk saya.
SEMOGA..!


4 Comments

  1. MARGARETA UAKA says:

    1. Jika mau jujur, sebagai perempuan, saya tidak pernah setuju dengan yang namanya Poligami. namun Sesungguhnya sistem poligami yang diatur dalam Islam adalah sistem yang bermoral dan manusiawi. Manusiawi, karena Islam tidak memperbolehkan bagi laki-laki untuk berhubungan dengan wanita yang ia sukai di luar pernikahan. Dan sesungguhnya tidak boleh baginya untuk berhubungan dengan lebih dari tiga wanita selain isterinya. Tidak boleh baginya berhubungan dengan satu dari tiga tersebut secara rahasia, tetapi harus melalui aqad dan mengumumkannya, meskipun dalam jumlah yang terbatas.

    Bahkan harus diketahui juga oleh para wali perempuan tentang hubungan yang syar’i ini, dan mereka menyetujui atau mereka tidak menentangnya. Harus juga dicatat menurut catatan resmi di kantor yang tersedia untuk aqad nikah, kemudian disunnahkan mengadakan walimah bagi laki-laki dengan mengundang kawan-kawannya serta dibunyikan rebana atau musik sebagai ungkapan gembira.

    catatan : Tidak disyaratkan bagi seorang laki laki untuk meminta ijin kepada istrinya bila akan menikah lagi. Hanya saja untuk menghindari permasalahan di kemudian hari, seorang suami baiknya memberitahukan (bukan meminta ijin) agar ada kesiapan mental bagi si istri pertama. Termasuk mempersiapkan mental istri adalah seorang suami mendidik istrinya dengan pendidikan agama yang baik. Dan ini memerlukan waktu yang lama.

    Poligami merupakan sistem yang manusiawi, karena ia dapat meringankan beban masyarakat yaitu dengan melindungi wanita yang tidak bersuami dan menempatkannya ke shaf para isteri yang terpelihara dan terjaga.

    Seorang suami yang hendak melakukan poligami hendaknya melihat kemampuan pada dirinya sendiri, jangan sampai pahala yang dinginkan ketika melakukan poligami malah berbalik dengan dosa dan kerugian. Dalam sebuah hadits disebutkan (yang artinya) “Barangsiapa yang mempunyai dua istri, lalu ia lebih condong kepada salah satunya dibandingkan dengan yang lain, maka pada hari Kiamat akan datang dalam keadaan salah satu pundaknya lumpuh miring sebelah.” (HR. Lima)

    Semoga pendapat saya ini dapat menjadi pemahaman kita semua mengenai Poligami, sekali lagi bahwa Poligami bukanlah hal yang mudah karena akan dihadapkan pada pertanggungan jawab yang besar di hari akhirat kelak.

    2. berbicara mengenai Pendidikan, apalagi tentang penyelenggaraan Pendidikan di Gorontalo Utara, dilihat dengan filsafat pendidikan islam, maka saya berpendapat bahwa pendidikan di gorontalo utara belum dapat diharapkan manfaatnya. masih banyak ketimpangan yang harus diperbaiki. diantaranya, fungsi guru-guru yang semestinya mencerdaskan peserta didik,namun di gorontalo utara fungsi guru malah dilecehkan. didaulat menjadi tim sukses kepala daerah pada ajang pilgub 2011. guru harus melakukan apapun yang menjadi keinginan sang pengambil kebijakan. padahal semestinya Guru harus mendidik dan mencerdaskan peserta didiknya. terima kasih
    By : MARGARETA UAKA
    NIM : 08102160.
    KI/VI Kwandang.

  2. Isnawati Bakari (Mahasiswa) says:

    Ada dua masalah yang saya lihat masih kurang “tajam” terulas dalam ulasan ini. Yaitu;
    1) tentang ukuran atau indikator kecerdasan, kesejahteraan, kesadaran dan penghayatan. Tanpa ukuran atau indikator yang jelas terhadap 4 hal tersebut, maka “prediksi” itu sendiri akan kabur, bahkan mungkin tidak akan pernah tercapai. Kecerdasan yang tinggi, kesejahteraan yang tinggi, kesadaran beragama yang tinggi dan tingkat penghayatan kemanusiaan yang tinggi, sekali lagi indikator dan ukurannya tidak jelas dan bisa saja ini tergantung pada pemahaman masing-masing orang.
    2) Saya melihat kecenderungan yang terbalik terhadap nasib poligami,…dulu ketika beradaban manusia tidak seperti sekarang, maka poligami bagi raja-raja, pengusaha, bahkan sampai ke petani pun adalah hal yang biasa dan wajar dan biasa-biasa saja… Sekarang ketika kecerdasan dan peradaban manusia sudah makin maju… Poligami menjadi perdebatan, bahkan dalam satu waktu menjadi sebuah gerakan yang harus dihapuskan di muka bumi. Bagi saya, nasib poligami yang pasang surut adalah fakta sejarah yang bisa jadi merupakan pelajaran bagi kita manusia sekarang ini, ataupun nanti bagi manusia-manusia masa depan…

    Demikian, kalau pun saya salah mengomentasi, mohon dimaafkan. Namanya juga baru belajar pak.

  3. Tawaf Cs says:

    polagami merupakan perbinjangan yang asyik di bicarakan namun sulit dilaksanakan oleh mereka yang memiliki iman yang dangkal….. karena poligami hakikatnya bukan hanya berkaitan dengan hukum agama semata melainkan masalah psikologis bagi mereka yang menjalankan… sedangkan poligami secara ilmu masyarakat hakikatnya mengajarkan kita untuk bersabar… dan yang terpenting adalah sikap toleransi yang tingii…… WALLAHU a’lamu Bissaawaf…. ( kebenaran hanya milik Allah )

    • Yaa, benar skali. Karena itu, kita boleh berpendapat apapun tentang poligami, tetapi pada saat yang sama kita juga mesti menghargai pandangan yang berbeda dari pendapat kita. Yang pasti bahwa, poligami harus dilihat dalam berbagai sudut pandang. Dengan begitu, akan semakin arif pandangan kita tentang poligami, makasih atas responnya….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: