Peradaban Tauhid

Home » Budaya » ALIKUSU: Pintu Gerbang Lailatul Qadar!

ALIKUSU: Pintu Gerbang Lailatul Qadar!

Alikusu / Arkus, (fotodoc hulondhalo.com)

“Tiada kehidupan tanpa pintu”. Pintu, sekali lagi, adalah sesuatu yang begitu dekat dengan kehidupan kita. Bahkan, meski tak bisa diingat lagi kapan dan bagaimana rasanya, kita pun sesungguhnya hadir di dunia ini melalui sebuah “pintu” khusus dan akhirnya kita harus pamit dari dunia ini, juga melalui “pintu khusus”. Lailatul Qadar pun sangat boleh jadi memasuki alam kemanusiaan kita melalui “pintu khusus”
ALIKUSU, yang juga sering disebut ARKUS, yaitu semacam pintu gerbang yang dibikin di depan rumah. Biasanya dibuat ketika memasuki tiga hari terakhir ramadhan. Alikusu sendiri sebetulnya merupakan satu bentuk kreatifitas budaya yang kemudian melengkapi bahkan memberi muatan spiritual pada tumbilotohe.

Nilai-nilai terdalam dari ajaran Islam dapat dilacak dan diselami melalui “aksesori” atau perhiasan yang melengkapi alikusu, yaitu  adanya 27 buah lampu. Pada bagian dasar 13 buah, bagian kedua 9 buah, sisi kiri-kanan 4 buah, dan pada bagian atasnya terdapat 1 buah. Menurut penuturan DK. Usman 13 buah lampu sebagai perlambang rukun sholat yang tigabelas. Hal ini seolah memberi isyarat bahwa orang-orang tua mengingatkan kita bahwa sholat mesti mendasari setiap bentuk peribadatan kepada Allah. Atau dengan kata lain, syareat (yang diwakili oleh sholat) adalah dasar fundamental ajaran Islam.  Selanjutnya, 9 buah lampu pada bambu lapis kedua adalah perlambang Rasullah dan 4 sahabat bersama malaikat Jibril, Mikail, Izrail dan Iisrafil. Setelah itu 4 buah lampu di atasnya melambangkan jenjang penghampiran kepada Allah, yaitu Syareat, Tarekat, Hakekat, Ma’rifat. Dan dipuncak alikusu terdapat satu buah lampu yang melambangkan satu-satunya Dzat tertinggi, muara dari semua kehidupan di jagat raya.  Sementara itu, bagian bawah alikusu dihiasi dengan :

Pertama, lambi atau pisang yang sudah berbuah. Maknanya adalah kesuburan dan kemakmuran sekaligus daya survive. Pisang adalah simbol kehidupan yang mengisyaratkan  semangat dan hidup (survival) yang sangat tinggi untuk menghasilkan sesuatu yang bermanfaat. Benar juga ya, coba perhatikan, pisang ternyata adalah makluk hidup yang tidak mau mati sebelum berbuah, bagaimanapun kondisi batangnya. Sebaliknya,  bagaimanapun besarnya batang pisang sekali ia telah menghasilkan buah, maka ia pasti akan mati. Pisang sepertinya memberi pelajaran berharga kepada kita bahwa jika seseorang telah berbuat atau memegang jabatan maka setelah itu mestinya lengser secara tulus, dan mempersilahkan yang muda-muda untuk melanjutkan perannya. Fakta menunjukkan, satu dari sekian penyebab konflik sosial adalah karena tidak sedikit orang tua (baca: pemimpin) yang tidak tulus untuk segera menyerahkan perannya kepada orang lain yang lebih muda (produktif). Padahal hukum alam mengajarkan, semakin tua seseorang maka semakin menurun pula produktifitasnya. Keenakan kali ya…!

Kedua,  patodu atau tebu. Mengandung makna manisnya kehidupan sejalan dengan bertambahnya usianya. Semakin tua usia tebu, semakin manis pula batangnya. Tumbuhan ini seolah memberi pelajaran kepada kita bahwa kehidupan ini akan terasa manis, menyenangkan, apabila orang-orang tua mampu merefleksikan kedewasaannya, baik dalam kata-kata maupun perbuatan. Dan betapa manisnya kehidupan bila yang muda-muda memahami bahwa perkembangannya mesti seperti temu; ruas demi ruas, setahap-demi setahap menuju mengukuhan eksistensi kemanusiaanya yang benar-benar manis.

Ketiga, Polohungo. Sejenis tumbuhan yang daunnya warna warni ini termasuk bunga yang paling disukai pada masa lampau. Saya ingat masa-masa kecil di tanah kelahiran (Tolinggula). Disekeliling sumur-sumur tua umumnya ditanami tumbuhan warna-warni ini. Belakangan baru saya tahu kegunaannya yaitu sebagai filter atau penyaring debu atau kotoran agar tidak masuk ke sumur. Mungkin lantaran itu rata-rata sumur yang ada tumbuhan polohungo bisa dijamin airnya jernih dan bersih.  Di samping itu, ada juga anggapan bahwa puluhungo ini adalah tumbuhan kesukaan malaikat. Anggapan ini mungkin bisa dinilai terlalu berlebih-lebihan (sebab malaikat bebas dari nafsu kebendaan) tetapi saya kira bukannya tanpa dasar. Boleh jadi, orang dulu lebih menghayati bahwa Tuhan dan para malaikat-Nya mencitai keindahan, maka mereka pun berusaha sekuat tenaga bagaimana mengekspresikan keindahan itu dalam beribadah, apalagi menyambut sang tamu agung, lailatul qadar.

Luar biasa! Nenek moyang kita memang kreatif. Kalau kita cermati bagian atas alikusu yang terdiri dari 17 buah lampu itu ternyata menyiratkan citra spiritualitas yang tinggi. Sebaliknya, bagian bawah Alikusu yang dihiasi pisang, tebu, dan polohungo ternyata juga sarat nilai-nilai filosofis, humanistik dan sosiologis. Lantaran itulah hampir bisa dipastikan bahwa bagi orang-orang yang berpuasa dan memasang Alikusu di depan rumahnya, maka lailatul qadar akan mengunjunginya. Bagaimana bisa? Mungkin Anda tidak percaya!! Sederhana saja argumennya, kalau kita sungguh-sungguh berpuasa dan mampu menyelami, mengahayati dan mengamalkan nilai-nilai spiritualitas, filosofis, humanistik dan sosiologis, maka tentu saja tidak ada alasan bagi lailatul qadar untuk menghindar. Lantas, bagaimana penghayatan kita tentang nilai-nilai itu saat ini. Jawabannya singkat: Alangkah boros, sia-sia dan mubazirnya kita jika ternyata tumbilotohe, alikusu dan semacamnya justru mengganggu ibadah serta menjauhkan kita dari Allah. Kalau sudah begini, bagaimana? Yah, terserah Anda. Yang pasti Tuhan mengingatkan kita, “innal mubadziriina kana ikhwanus syaithon” Sesungguhnya sesuatu yang mubadzir itu adalah teman setan.


1 Comment

  1. Momy Hunowu says:

    alikusu telah punah… yang tersisa hanyalah lampu hias, dan telah kehilangan nilai-nilai ibadah yang dipancangkan leluhur kita… sekarang lebih bernuansa estetika dan pariwisata… kalo tumbilotohe bertujuan menerangi jalan ke masjid untuk beribadah… sekarang masjid justru sepi gara2 mau lihat tumbilotohe……. itu bau satu, masih ada dua, tiga dan empat………

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: