Peradaban Tauhid

Home » tentang Thariq

tentang Thariq

Thariq Modanggu

Thariq Modanggu

Thariq Modanggu, lahir di Tolinggula kab. Gorontalo, 17 Desember 1970. Tamat   SDN   Tolinggula   (1984),  ia  melanjutkan studi di  SMP Negeri VI, lalu pindah ke SMP V Gorontalo. Lalu melanjutkan studi ke STM Negeri Gorontalo Jurusan Elektronika  Komunikasi hingga tamat 1990. Meski sempat bingung, akhirnya  ia  “lompat pagar” dari dunia teknik ke dunia pendidikan dan memilih Fakultas Tarbiyah IAIN Alauddin di Gorontalo (tamat 1995).  Mengenyam S2 di PPS  IAIN Makassar (2000-2002) dalam bidang kajian Tafsir/Pendidikan Islam. Menulis tesis “Konsep Pendidikan Islam Perspektif Teologi Pembebasan”.

Semasa studi, antara lain, 1993-1994 sebagai  Ketua Umum Senat Mahasiswa Fakultas Tarbiyah, Sekretaris Umum Gerakan Mahasiswa Kosgoro, Wakil Ketua DPD II KNPI Kota Gorontalo, Ketua Bidang Komunikasi Umat HMI  Cab.Gorontalo. Setahun kemudian pengurus Badko HMI  Sulawesi.

Di bawah kesejukan dan kecerdasan  “pengasuhnya” Mohd. Sabri  AR, sosok muda yang punya hobi menyanyi ini bersama teman-temannya, membangun tradisi intelektual  di Gorontalo melalui   Lembaga Studi Universum dan Lembaga Studi Islam Iinterdisipliner, yang belakangan menjadi ruh visi dan komitmen intelektualnya. Di pascasarjana  (S2) ia didaulat mengikuti Konferensi Internasional Perdamaian Dunia di Makassar dan Konferensi Internasional Pemikiran  Islam di Yogyakarta, keduanya  tahun 2001.

Di tengah aktifitas mengajar di  IAIN  Gorontalo, suami Mariyati Mohamad, dan ayah dari Nur Artafitriyah, Asghar Ali dan Mohamad Arsy ini aktif dalam kajian, diskusi, dan kegiatan sosial lainnya.  Dahaga intelektual “memaksa” dia mendirikan Lingkar Studi Agama  Filsafat dan sosial Budaya (L-SABDA) sekaligus menjadi direkturnya.

Gagasan teologi pembebasan yang menjadi inti kajian tesisnya menjadi sumber inspirasi bagi pengagum Bung Karno ini melepaskan diri dari rutinitas mengajar di kampus. Bersama-sama dengan mahasiswanya, Hendra Nurdin dan Herman Adam, ia terlibat aktif bahkan menjadi Ketua Komite Pembentukan Kabupaten Gorontalo Utara (2003-2006). Pada Musyawa

Perjuangannya “membebaskan” masyarakat  itu membawanya ke pentas politik. Ia diminta bahkan didesak oleh berbagai elemen masyarakat di kabupaten baru itu untuk menjadi calon bupati dalam Pemilukada  27 Oktober 2008. Berbekal kekayaan 137 Juta penggemar catur ini dengan penuh keyakinan menghadapi kontraktor papan atas Gorontalo  yang punya kekayaan 44 Milyar, yang juga didukung Gubernur Gorontalo Fadel Mohamad. Hasilnya sungguh fantastis! meski akhirnya ia dinyatakan kalah 57 suara oleh Mahkamah Konstitusi RI namun banyak kalangan menilai, Thariq Modanggu telah membuktikan bahwa “uang bukan segala-galanya dalam politik”.


5 Comments

  1. Ingko Gaib says:

    Insya Allah masih ada anak muda yg tdk “sok suci” yg bisa dijadikan tauladan maupun panutan dalam era yg penuh dengan “ketidakpastian” dan “kemunafikan dunia” ini.
    Thank’s atas tulisan-tulisannya di blog Peradaban Tauhid…yg bisa menjadikan pencerahan terutama bagi saya pribadi…
    Terus berjuang untuk menggapai cita-citanya…Ikhlas berbuat adalah jalan menuju KeridhoanNya…..

  2. Rasdi Hulopi says:

    Jujur., Kaulah idolaku saat ini.

  3. syukran misilu says:

    pa kabr pak…?

  4. Riri Astuti Djano says:

    assalamu alaikum pak,,,,wah tulisan bpk ttg Tumbilotohe sangt membntu saya untuk menambh referensi draft skripsi,,,trima ksh banyak pak,,,,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: