Peradaban Tauhid

Home » Budaya » Budaya Gorontalo » TUMBILOTOHE: Lestarikan atau Musnahkan!

TUMBILOTOHE: Lestarikan atau Musnahkan!

Tumbilotohe (dok. Oneal Bharacatie)

Masyarakat Gorontalo, dahulu, terdiri dari linula-linula atau hidup berkelompok-kelompok. Karena itu, untuk shalat malam di masjid, apalagi di bulan ramadhan, mereka harus membuat semacam alat penerangan yang oleh D.K Usman,  disebut wango-wango, yaitu wamuta atau seludang yang dihaluskan dan diruncingkan, kemudian dibakar. Wango-wango, ketika itu, cukup efektif karena bisa bertahan kurang lebih seperdua malam. Tahun-tahun berikutnya, alat penerangan mulai menggunakan tohetutu atau damar yaitu semacam getah padat yang akan menyala cukup lama ketika dibakar. Nenek moyang kita tampaknya sudah mempraktekkan motto Suzuki “inovasi tiada henti”. Mereka pun mulai memakai lampu yang menggunakan sumbu dari kapas dan minyak kelapa, dengan menggunakan wadah yang ada disekitarnya seperti kima, sejenis kerang, dan pepaya yang dipotong dua, yang juga disebut padamala.

Tumbilotohe, secara historis, menurut penjelasan Farha Daulima sebenarnya tidak dapat dipisahkan dari syi’ar Islam. Kemunculannya, sebagaimana H. DK. Usman, menurut Farha Daulima karena masyarakat Gorontalo pada awalnya hidup berkelompok-kelompok. Untuk shalat tarwih berjamaah, mereka menggunakan sistem paalita atau bergilir dalam kelompok mereka. Ada tiga fase perkembangan tumbiloto Pertama, morongo. yaitu dahan-dahan kayu yang diikat menjadi satu dan ujungnya dibakar. Kedua, tohetutu. Tahun-tahun berikutnya setelah pemakaian morongo mulai digunakan tohetutu (damar), yang jenisnya perempuan. Damar jenis inilah yang  tidak berjelanga (asap hitam yang menimbulkan polusi). Ketiga, padamalaa. Berbeda dengan morongo dan tohetutu yang dibakar tanpa bahan bakar, orang Gorontalo ketika itu mulai mengenal lampu (padamala) yang menggunakan sumbu dari kapas, dengan bahan bakar minyak kelapa, yang ditempatkan pada bambu, biya (sejenis kerang) dan  belakangan, menggunakan kaleng.

Sampai disini, paling tidak ada dua hal yang patut dicatat, (1) nenek moyang kita ternyata punya pemikiran yang cerdas sekaligus kreatif. Mereka melihat bahwa wango-wango, morongo dan tohetutu ternyata tidak bisa disetel intensitas cahayanya dan juga tidak bisa digunakan secara berulang-ulang, sehingga kemudian mereka menggunakan sumbu dan minyak, (2) tumbilotohe ternyata dimunculkan untuk menunjang kegiatan ibadah, terutama di bulan ramadhan.
PERGESERAN NILAI

Sebagai orang Gorontalo, kita mestinya bangga punya budaya Tumbilatohe, yang tidak dimiliki daerah lain. Tidak itu saja, dari tumbilotohe ini bisa dimaknai bahwa ternyata orang tua-tua dulu tidak pasrah begitu saja pada kondisi alam. Mereka bukan saja kreatif melainkan juga religius. Menciptakan sesuatu yang membantu pelaksanaan ibadah sungguh merupakan sesuatu yang tinggi nilai ibadahnya. Sekali lagi, kita memang patut berbangga. Sayangnya, saat ini tumbilotohe sepertinya tidak lagi murni untuk kepentingan ibadah. Kenyataan di sekitar kita justru menunjukkan, tumbilotohe dibeberapa tempat justru mengganggu ibadah puasa dan amaliah-amaliah lainnya. Ada yang justru hanya sibuk mengurusi lampu tapi melalaikan shalat. Bahkan  orang lain pun terganggu ibadahnya. Bagaimana tidak, lampu-lampu disetel menurut irama disco dengan hentakan treble dan bass, yang kadang-kadang memaksa kita memegang dada. Ironisnya, yang begini baru yang dianggap gaul dan hebat. Panggung-panggung berdiri megah memamerkan berbagai merek sound sistem, tetapi tidak banyak yang memutar kidung-kidung rohani: lagu-lagu padang pasir, qasidah apalagi kaset pengajian.
LESTARIKAN ATAU TINGGALKAN !

Tumbilatohe adalah murni produk budaya masyarakat kita, meski itu awalnya dirancang untuk kepentingan ibadah. Karena  itu, tidak beralasan kalau kita menolak tumbilatohe hanya karena dalih; tidak ada dalam al-qur’an, dan tidak ada dalam hadits. Islam adalah agama yang sangat menghargai akal dan kreatifitas jasmani, sementara budaya itu sendiri lahir dari kerja akal dan kreatifitas jasmani. Logikanya, orang yang menolak budaya berarti menolak sebagian ajaran agamanya. Bahkan penulis berani mengatakan bahwa budaya adalah sesuatu yang harus ada dalam masyarakat Islam. Jika tidak, maka keislaman kita adalah keislaman yang “kering”, “mandul” dan tanpa gairah. Pun kalau ada bentuk-bentuk budaya yang tidak sesuai dengan ajaran agama, maka budaya seperti harus ditinggalkan. Tetapi, itu tidak berarti bahwa semua budaya yang ada dalam masyarakat kita harus ditolak semuanya.

Tumbilotohe, menurut hemat penulis dapat dilestarikan, paling tidak, dengan syarat: Pertama perlu diberi nilai-nilai baru. Kita tentu saja tidak bisa mengembalikan lagi nilai atau tujuan tumbilotohe sebagaimana awal kemunculannya yaitu untuk menerangi jalan ke rumah-rumah atau ke masjid untuk beribadah. Sebab, saat ini lampu listrik telah menggantikan peran tumbilotohe sebagai alat penerangan di jalan, di masjid dan di rumah. Nilai-nilai baru dimaksud: (1) nilai filosofis. Marilah kita melihat keberadaan tumbilotohe sebagai cerminan dari kehidupan seorang manusia. Jika kita mencermati kehidupan tumbilotohe akan tampak bahwa kehidupannya ternyata tergantung kepada bahan bakar yang ada padanya, dan tergantung pada sebab-sebab di luar dirinya, misalnya tiupan atau hembusan angin. Kehidupan manusia ternyata tak jauh beda dengan tumbilotohe. Kehidupannya tergantung pada keseimbangan organ-organ tubuh sebagai tempat bersemayamnya ruh kehidupan, dan tergantung pula pada interaksi ataupun pengaruh lingkungan di luar dirinya. Keduanya kita yakini (sesuai corak teologi Indonesia umumnya) berada dalam genggaman Allah. (2) tumbilotohe mesti memberi nilai manfaat atau maslahat, dan bukannya kesusahan atau kesulitan (bagaimana dengan kekurangan minyak tanah?) misalnya dikemas menjadi semacam festival, yang keuntungan untuk orang banyak, dan bukannya bagi pengusaha apalagi pejabat (3) tumbilotohe jangan sampai melalaikan kita beribadah. Juga tidak boleh mengganggu kekhusyu’an beribadah. Jika tidak, maka tinggalkanlah tradisi tumbilotohe, atau kita bumi Gorontalo ini tidak akan pernah  “dilirik” oleh lailatul qadar selamanya. Wallahu ‘alamu bi al-sawab.


5 Comments

  1. Bisa nggak ya, tradisi Tumbilotohe ini “diekspor” ke luar daerah oleh para perantau dari Gorontalo, terutama di pulau Jawa?

  2. pulu says:

    Mantaap,kalo bisa di lestarikan saja,tp harus ada dalam nilai2 keagama’an,macam penulis bilang dia atas “yg mana saat ini tumbilotohe sepertinya tidak lagi murni untuk kepentingan ibadah. Kenyataan di sekitar kita justru menunjukkan, tumbilotohe dibeberapa tempat justru mengganggu ibadah puasa dan amaliah-amaliah lainnya. Ada yang justru hanya sibuk mengurusi lampu tapi melalaikan shalat.
    Kalo bisa tdk perlu diekspor,krna ini bukan barang,hehehee,kalo di promosikan,itu baru mungkin,bangga donk kt punya tradisi tumbilotohe yg mgkn di daerah laen tdk ada tradisi sprti ini,

  3. muh. suja Alamri says:

    apalagi tumbilotohe jadi ajang kampanye para kandidat cagub dan cabub.

  4. purnawarman says:

    Biarkanlah Tumbilotohe tetap menjadi tradisi kebanggaan Gorontalo,,, selamanya….adapun permasalahan menurunnya aktifitas ibadah masyarakat pada akhir-akhir bulan Ramadhan sepertinya sudah menjadi “tradisi lain” di kalangan umat Islam, bukan hanya di Gorontalo… ada yang sibuk bikin kue lebaran, ada yg sibuk mengecat rumah dan lain sebagainya… disinilah peran para Dai/tokoh agama/ulama dan saudara sesama muslim untuk saling mengingatkan akan Kebaikan dan Kebenaran…. semoga kita semua senantiasa mendapat petunjuk dari Allah SWT…amiiin…

    • Setuju skali pak. Budaya harus tetap lestari, karena ia merupakan teropong kita ke masa lalu. Semoga nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya dapat kita pelihara dan kita kembangkan di masa depan. Terima kasih…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: