Peradaban Tauhid

Home » Manusia

Manusia

KEKUATAN MANUSIA GORONTALO

Mengintip Jendela Langit

Mengintip Jendela Langit

Masih segar dalam memori saya pertanyaan (alm) guru saya di STM Gorontalo. Ketika itu saya duduk di kelas dua. Pertanyaannya relatif tidak ada hubungannya dengan materi pelajaran, dan disampaikan sewaktu saya main-main  ke rumahnya. Kost saya memang satu blok di Perumahan Pulubala dengan pengajar mata pelajaran “Pabrikasi Logam” asal Sumatra tersebut.

Pertanyaannya sebetulnya singkat saja tetapi diawali dengan penjelasan untuk memudahkan saya menjawab. Pertama-tama beliau membandingkan luas planet bumi yang kita tempati dengan planet-planet lain yang begitu banyak bertebaran di jagat raya ini.

Ilustrasinya cukup sederhana. Ambil sebutir pasir, letakkan di ujung telunjuk, lalu lihat dan bandingkan dengan luas bumi yang kita tempati. Maka menurut beliau, perbandingan luas planet bumi yang kita tempati dengan milyaran planet lain di jagat raya ini, ibarat sebutir pasir berada di planet bumi ini. Singkatnya, hanya sebesar pasir itulah sesungguhnya luas bumi yang kita tempati.

Setelah memberi ilustrasi tersebut barulah beliau bertanya “Kalau hanya sebesar pasir itu yang ditempati manusia, dimanakah sesungguhnya letak kekuasaan Tuhan, apakah Dia hanya berurusan dengan manusia yang hanya berada dalam sebutir pasir tersebut?”

Pembaca yang budiman, tentu saja saya tidak sanggup menjawab.  Bagaimanapun pertanyaan itu terlalu berat untuk seorang siswa kelas dua STM. Alhamdulillah putaran waktu 18 tahun telah berlalu, namun pertanyaan itu saya tidak bisa lupakan. Jawabannya pun mulai saya temukan, meski masih kurang meyakinkan.

Dalam tulisan ini saya tidak ingin memaksakan diri menjawab pertanyaan tersebut, saya justru akan mengajukan pertanyaan yang agak berbeda tetapi menurut saya sesungguhnya lebih penting untuk dijawab demi kemajuan dan martabat ummat manusia.

Dengan ilustrasi guru saya tersebut, saya justru ingin bertanya mengapa Tuhan hanya memberi kepercayaan kepada “makhluk di dalam pasir” (manusia) sebagai “pengganti-Nya” (al-Baqarah: 30) untuk mengelola atau setidak-tidaknya memperhatikan jagat raya ini?

Dalam kaitan itu, saya tidak ingin membantah kesimpulan Penerima Anugrah Nobel Perdamaian, Dr. Alexis Carrel bahwa “manusia adalah makhluk misterius” dalam karyanya yang termashur “Man: The Unknown. Boleh jadi ia benar dalam beberapa sudut pandang. Tetapi saya hanya ingin menegaskan, telah terbukti sepanjang sejarah bahwa hanya manusialah yang membuat kemajuan atau peradaban di jagat raya ini. Dari yang dibangun di atas tanah; berbagai jenis bangunan dan berbagai jenis kendaraan darat, kapal yang mengarungi samudra bahkan berbagai jenis pesawat yang mengarungi angkasa.

Semua itu hanya bisa dilakukan oleh makhluk (manusia) yang menempati “ruang sebutir pasir”. Itulah karya manusia-manusia yang cerdas dan kreatif. Cerdas dalam berpikir tentang diri dan alam sekitarnya serta kreatif dalam berkarya, mengolah potensi alam menjadi sesuatu yang fungsional bagi orang banyak.

Akan tetapi, sejarah juga memberitahu kita, begitu banyak peradaban yang maju lalu hancur berantakan lantaran keserakahan dan ambisi yang tidak wajar. Peradaban Romawi, Yunani, Mesir, Aztek, Byzantium, Persia, adalah contoh. Juga peradaban muslim yang tadinya maju seperti Abasiyah, Usmaniyah, Fatimiyah, semuanya luluh lantak karena keserakahan.

Lebih dekat lagi ke Indonesia, bukankah konsep “gemah-ripah loh jinawi, tata tentram kerta raharja” yang dicitakan oleh peradaban Majapahit belum pernah tercapai di zaman Indonesia merdeka? Dalam konteks yang lebih kecil, di Gorontalo kita, meminjam kajian senior saya, Alim Niode, (1997) peradaban luhur yang tercipta di jaman Ilomata Wopato (Empat Karya Agung) tiga ratusan tahun lalu hingga kini tak pernah terulang. Karena apa? Karena kekuatan manusia yang dahsyat itu dicabik-cabik oleh keserakahan yang menghinakan diri.

Singkatnya, sejarah manusia telah menyuguhkan secara berulang-ulang pertarungan “pencipta peradaban” versus “penghancur peradaban”. Padahal, Al-qur’an yang Agung, telah menegaskan bahwa manusia diberi-Nya kekuatan yang dahsyat (at-Tiin: 4) tetapi juga ancaman bagi manusia yang merendahkan martabat kemanusiannya (at-Tiin:5). Dan, boleh jadi inilah maksud Alexis Carill menyebut manusia sebagai “makhluk misterius”

Kita, manusia Gorontalo, perlu menempatkan diri sebagai “penguasa sebutir pasir”. Kita, manusia Gorontalo yang hidup hari ini, perlu melihat kembali keberadaan kita, apakah masih punya keinginan untuk memanfaatkan kekuatan manusia yang cerdas dan kreatif, dan terutama sekali kekuatan moral kita, yang sesungguhnya begitu agung.

Sayangnya nilai-nilai ke-adab-an  itu masih terbungkus begitu rapi di ajaran agama, dan beberapa diantaranya dalam prosesi adat kita. Hari ini kita perlu secara bersama-sama membangun kesadaran kritis bahwa sudah waktunya kita membangun Gorontalo tercinta ini dengan tiga kekuatan manusia yang dahsyat yaitu kecerdasan, kreatifitas dan akhlak. Dengan begitu, akan terwujud kemajuan Gorontalo melalui sederet karya Agung. Jika tidak, maka hampir bisa dipastikan bentangan sejarah Gorontalo akan menderita penyakit kronis yaitu The lost generation (generasi yang hilang). Jangan-jangan kita termasuk dalam daftar generasi yang hilang itu..!


2 Comments

  1. tawaf Z says:

    manusia bisa mengukir sejarah peradaban yang panjang karena memiliki akal, pikiran dan hawa nafsu….. dengan akal maka muncullah ide-ide cemerlang untuk berbuat sesuatu dan hawa nafsu membantu dalam mewujudkannya………. namun banyak manusia yang mengunakan hawa nafsunya secara berlebihan sehinga terjadi kerusakan dan melenceng dari tujuan awal pembuatan hawa nafsu tersebut. dalam mengunakan akal manusia juga sering lupa sehinga sering mengakal-akali orang lain. sehinga itu apabila kita ingin mengukir kembali per adaban kita yang telah hilang maka kita harus memperbaiki akal dan hawa nafsu kita dan jaganlah menjadikan agama sebagi pelindung di kala kenak musibah dan kesusahan tetapi jadikanlah sebagai pedoman hidup yang hakiki. awali hidup ini dengan keberanian untuk mengakui kesalahan kita sendiri dan berjalanlah di muka bumi ini dengan kejujuran.
    ” kedudukan manusia bisa melebihi malaikat apabila ia mengunakan akalnya dengan baik dan akan lebih hina dari binatang jika ia tidak mengunakan akalnya dengan baik dan hanya memperturutkan hawa nafsunya belaka “

  2. Momy Hunowu says:

    Untuk sementara tidak apa-apa terjadi hilangnya generasi agar kelak tumbuh generasi baru yang terbebas dari warisan budaya lama yang sulit dihilangkan hanya dengan sosialisasi, penyuluhan, seminar, dll… mungkinkah???

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: