Peradaban Tauhid

Home » Pendidikan

Pendidikan

NIKMATNYA “BERMESRAAN” DENGAN TUHAN

Mengintip Jendela Langit

Mengintip Jendela Langit

Jari-jemari yang menuntun pena ini terasa begitu bergemetar oleh gemuruh zikir yang memecah keheningan pagi jantung kota Gorontalo. Butiran-butiran bening tiba-tiba  mengalir perlahan membasahi pipi, seakan tak mau kalah dengan bibir dan hati, betasbih kepada penciptanya, Tuhan.

Bulu roma yang biasanya hanya berdiri ketika berjalan pada malam hari atau nonton film horor, sejurus kemudin menegang seperti tak mau kalah dengan jiwaku yang bergelora oleh untaian kalimat-kalimat suci.

Penulis hanyalah satu diantara belasan ribu umat muslim yang tiba-tiba tersentak kesadarannya, bahwa selama ini kita lupa diri, tersedot pada pusaran pesona dunia, yang kemudian tanpa sadar kita telah “mendepak” dan “menendang” tuhan dari aktifitas mencari nafkah, mengejar jabatan dan kedudukan.

Apakah H.M. Arifin Ilham tukang hipnotis atau penyihir “? Mungkin ada orang iseng atau rada-rada sableng bertanya “ bagaimana mungkin pejabat, wakil-wakil rakyat, politisi, pengusaha, yang sehari-harinya tampak tegar di belakang meja kantornya yang serba wah! Berwibawah dengan stelan jas lengkap berdasi, mobilnya mewah, tiba-tiba menunduk pasrah di hadapan Tuhannya.

Tiba-tiba kesadaran yang hakiki muncul. Tanpa sadar kita justru mengutuk diri sendiri; pejabat yang korup dan  sombong, wakil-wakil rakyat politisi busuk, yang atas nama rakyat justru menyengsarakan rakyat, LSM mestinya membela dan memberdayakan rakyat ternyata hanya merasionalkan kepetingannya, demi  isi kantong, demi dapur mengepul dan, terutama demi gengsi.

Para guru dan Dosen yang mestinya “memanusiakan” manusia, ternyata tidak lebih dari sekadar mengejar pegangan hidup, dapat gaji, bisa dapat kredit dan  santunan pensiun. Hakim, jaksa dan polisi yang mestinya memberikan ketenangan dan rasanya keadilan ternyata masih mengecewakan. Masya Allah. Inilah antara lain macam-macam rasa yang berkecamuk dihati ketika berzikir dan bertafakur. Kesadaran dan gugatan-gugatan seperti ini memang hanya akan muncul  dari sebuah titik  kesadaran yang paling dalam ketika kita bersimpuh pasrah dihadapan Tuhan. Karena dihadapan-Nya, kita tidak bisa menyembunyikan sesuatu, yang biasanya kita sembunyikan, kita bungkus rapat-rapat, demi sebuah kehormatan dan prestise dimata manusia.

Jadi yang pasti, H.M. Arifin bukankah seorang yang ahli hipnotis apalagi penyihir. Ia hanyalah satu dari sekian pengemban amanah Nabi. Sekedar membangkitkan kesadaran kritis kita dan terutama kesadaran ketuhanan yang bersemayam di dasar sukma. Gejolak dan gemuruh batin inilah sesungguhnya fase yang paling berharga dalam hidup. Mungkin inilah yang biasa disebut orang sebagai kebermaknaan hidup menuju kenikmatan yang tak bertepi.

Tentu saja, yang namanya “nikmat” banyak cara meraihnya. Tapi umumnya, kenikmatan bisa  didapatkan dari yang baik atau hal positif  (sesuai perintah agama) dan dari hal-hal negatif,  tidak baik (dilarang agama).

Soal kenikmatan memang bersifat individual, dan karena itu susah diukur. Tapi yang jelas, kenikmatan dari hal-hal yang negatif adalah kenikmatan semu. Kenikmatan yang pasti menyisakan bayangan dosa, yang senantiasa membayang-bayangi. Mengejar dan terus mengejar. Apalagi kalau lagi sakit keras dan melihat orang yang diusung menuju “pintu” akhirat.

Kenikmatan bersama Tuhan membikin kita plong, terbebas dari belitan dari rasa bersalah dan dosa, kendati kita kita tahu pasti apakah pada saat itu juga dosa kita langsung diampuni atau tidak.

Di balik semua itu, mungkin tanpa kita sadari, ketika terjadi kontak (bermesraan) secara spiritual dengan Tuhan, saat itu kita telah mempertautkan ruh yang dipinjamkan Tuhan dalam jasad kita. Unsur materi kasar (jasmani) kita memang berasal dari Tuhan meski  melalui perantaraan bapak dan Ibu, dari saripati tanah. Sedangkan ruh adalah unsur yang langsung ditiupkan oleh Tuhan dari ruh-Nya sendiri (wana fakhtu  fihi minruuhi). Jadi sebetulnya ketika berzikir dan bertafakur, ruh kita “dibelai” oleh pemilik-Nya (maaf kalau bahasa ini mengusik keimanan pembaca). Lantas, setelah munculnya kesadaran dan kemudian penyesalan, ternyata bikin lagi dosa dan kesalahan? Itu soal lain. maksudnya, ibarat orang mandi, mesti kita sadar bahwa kotoran dan kegerahan selama hidup tidak bisa dihilangkan hanya dengan satu kali mandi (mesti pakai sabun apapun dan berendam di dasar sungai sekalipun). Tapi itu tidak berarti kita putus-asa terus tidak mandi-mandi lagi. Bagaimanapun, mandi (berzikir) mesti terus kita lakukan. Dengan begitu kita tidak memberi waktu  lama bagi “kotoran-kotoran” itu menempel di tubuh yang memang kasar ini.  Semoga!


3 Comments

  1. Yelin Ahmad says:

    Pendidikan Integral yang Tauhidi

    (Yelin Ahmad)

    Dalam beberapa tahun terakhir ini ada trend baru di lingkungan sekolah-sekolah Islam, dengan menambahkan kata “terpadu”. Kita yakin, bukan tanpa alasan mereka menyelipkan kata “terpadu” didalamnya. Walaupun masih banyak dari kita yang bertanya tanya; Apanya yang terpadu? Apa bedanya dengan sekolah-sekolah pada umumnya?

    Bukan karena latah jika kemudian Hidayatullah ikutan memberikan kata “Pendidikan Integral” pada lembaga-lembaga pendidikannya. Sesungguhnya semangatnya bukanlah sekedar “nama” agar dianggap keren atau berbeda. Akan tetapi dibalik nama tersebut terkandung suatu idealisme serta harapan besar untuk menghadirkan kembali sebuah sistem pendidikan ‘tauhid’ dalam konteks kekinian dan kedisinian. Karena dalam pandangan Hidayatullah, pendidikan tauhid ini merupakan pendidikan yang diajarkan Allah seluruh nabi dan rasul yang bersesuaian dengan fitrah manusia secara universal sepanjang zaman. Dan secara historis pendidikan tauhid inilah yang merubah bangsa-bangsa dari kebiadaban (jahiliyah) menjadi bangsa beradab (Ilahiyah). Pendidikan ini telah melahirkan manusia yang mampu memberi manfaat bagi kehidupan sekaligus memiliki kualitas ketaqwaan yang tinggi kepada Allah SWT.

    Jika demikian, tentu pendidikan tauhid akan tetap menjadi kebutuhan bagi penyelamatan peradaban manusiaan di segala zaman. Termasuk kebutuhan kita dalam menyelamatkan Bangsa Indonesia dari pudarnya nilai-nilai kemanusiaan dan peradaban yang luhur. Kembali kepada pendidikan tauhid bukan berarti kita akan kembali ke masa lalu dengan mewarisi semua tradisi para nabi utusan Allah secara teknis. Akan tetapi kita mengambil ‘ruh’ serta nilai-nilai esensial dari warisan para nabi tersebut untuk menjadi filosofi dasar dari pendidikan kita hari ini. Al-Qur’an telah mengabadikan para Nabi Allah sebagai contoh teladan yang selayaknya dijadikan sebagai sumber inspirasi bagi ummat Islam hari ini, dalam menggali nilai-nilai filosofis dari pendidikan tauhid itu. Sejarah hidup mereka direkam kembali oleh Al-Qur’an, bukan ceritera kosong pengantar tidur; tetapi memiliki nilai pengajaran yang sangat berharga bagi ummat Islam sepanjang sejarah.

    “Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al Qur’an itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman” (QS. Yusuf [12]: 111) Pendidikan tauhid Keluarga Ibrahim. Diantara sejarah para Nabi yang diangkat kisah hidupnya untuk kita adalah kisah keluarga Nabiullah Ibrahin alaihis salam. Ibrahim memiliki 2 orang putra, dari kedua istrinya. Dari Hajar, Allah mengkaruniakan Ismail, dan dari Sarah, Allah mengakaruniakan Ishaq. Kedua istri beliau merupakan istri-istri yang shalihah dan putra-putra beliau adalah putra-putra yang shaleh. Walaupun kedua keluarga Ibrahim ini tinggal di tempat yang berbeda dan dipisahkan dalam jarak yang sangat jauh; akan tetapi kedua keluarga Ibrahim ini tetap terjaga keimanannya kepada Allah. Bahkan kedua keluarga ini kelak menjadi cikal bakal dari lahirnya sebuah bangsa yang bertauhid kepada Allah SWT. Sebuah keluarga yang patut untuk diteladani.

    Hajar dan Ismail tinggal di lembah Bakka, yang kemudian membangun Ka’bah sebagai pusat kegiatan ibadah kepada Allah. Kelak tempat ini berkembang menjadi Kota Makkah yang dimuliakan Allah. Makkah menjadi pusat peradaban Bani Ismail yang dari garis nasab ini kelak lahir nabi akhir zaman, Rasulullah Muhammad saw. Sedangkan Sarah bersama Ishaq tinggal di Palestina, membangun masjid Baitul Maqdis (al-Quds) sebagai tempat ibadah. Dari tempat ini lahir para nabi dari Bangsa Isra’il dengan dua agama besarnya; yaitu Yahudi dan Nasrani. Kota Palestina merupakan pusat peradaban Islam dari bani Ishaq.

    Sesungguhnya ini merupakan contoh riil output pendidikan ‘tauhid’ yang sukses, membangun diri, keluarga sekaligus sebuah bangsa yang menghasilkan peradaban besar yang mewarnai wajah dunia. Tidak ada yang menyangkl akan keberhasilan Ibrahim dalam melahirkan putra teladan, keluarga bahkan bangsa yang besar, yang pengaruhnya tidak dapat diabaikan hingga kini. Lantas apa yang bisa kita petik dari sistem pendidikan ‘tauhid’ yang diperagakan Ibrahim ini? Jika kita cermati secara teliti, kita akan mamperoleh gambaran yang sangat nyata bagaimana pilar-pilar pendidikan tauhid itu beliau tegakkan. Orientasi Pendidikan Tauhid.

    Bila kita bandingkan, tentu sangat berbeda dengan sistem pendidikan yang berorientasi pada materialisme yang banyak kita temui di negeri kita hari ini. Pada sistem pendidikan materialisme, semua pihak orientasinya adalah material (kebendaan/ keduniaan). Maka lembaga pendidikannya melakukan komersialisasi, untuk kepentingan pribadi, keluarga atau kroni. Guru-gurunya tidak peduli terhadap kepribadian siswa; karena bagi mereka yang penting menyelesaikan program pengajaran sesuai waktu dan memperoleh gaji yang cukup. Orang tua memilihkan sekolah anaknya karena gengsi atau yang penting nilainya akademiknya tinggi. Pada akhirnya sang anakpun bersekolah karena motivasi ini pula. Orientasi serta tujuan, yang dalam bahasa syari’ah disebut “niat” itu sangat menentukan proses. Dan tentu niat serta proses itu akan menentukan out put dan hasilnya.

    “Setiap amal itu tergantung pada niat, dan setiap orang itu akan memperoleh sesuai dengan apa yang diniatkannya ….” (HR. Bukhari Muslim) Jika niat serta motivasinya melenceng, maka dapat dipastikan proses maupun hasilnya akan melenceng juga. Adapun apabila kita telah menetapkan niat secara benar, maka kita akan terdorong untuk melakukan usaha yang benar sesuai dengan apa yang telah diniatkan, walaupun untuk mencapainya memerlukan perjuangan dan pengorbanan yang tidak kecil. Kalaupun ikhtiyar maksimal yang dilandasi niat yang benar itu belum juga mencapai hasil ideal; kita masih punya simpanan harapan akan rahmat Allah, pertolongan serta ampunan-Nya. Dalam sistem pendidikan tauhid, semua pihak harus menyadari, bahwa motivasi utama mereka adalah mengharapkan keridhaan Allah SWT. Dan keridhaan Allah itu dapat diperoleh dengan melaksanakan apa yang menjadi syari’at-Nya serta mengagungkan Asma-Nya.

    Jika hal ini menjadi orientasi dari seluruh stake holder, maka akan tercermin dalam motivasi maupun tujuan pemilik lembaga pendidikan mendirikan dan menyelenggarakan sekolah, guru-guru menjadi pendidik, orang tua menyekolahkan anaknya ke lembaga pendidikan dan juga siswa dalam mencari ilmu. Adapun tuntutan untuk menjadi pendidikan yang baik, unggul, berpresatasi, dan sebagainya tidak boleh dilepaskan dari orientasi dasar mengagungkan Asma Allah dan mengharapkan keridhaan-Nya tersebut. Hal ini karena memang segala kebaikan itu milik Allah dan dicintai Allah. Allah-lah yang memiliki nama dan sifat yang agung (Asmaul Husna). Oleh karenanya setiap elemen pendidikan (pemilik, orang tua, guru, siswa) dituntut mewujudkan segala yang baik “menurut Allah” dan “karena Allah”. Wallahu a’lam bis-shawab.

    • Pemulung Gorontalo says:

      Arah dan tujuan pendidikan bangsa indonesia Formal atw tidak sama saja…..

      Tujuan Utamanya : MENCIPTAKAN PELAYAN-PELAYAN BIROKRASI REZIM PEMENANG…………..YANG SIAP SETIAP SAAT JADI PREDATOR BAGI RAKYAT JELATA……….

      salam kenal mbak…..

      Pemulung Gorontalo

  2. nur naningsih asabi says:

    manusia memang patut bersyukur atas karunia yang diberikan oleh Allah SWT,,, tidak ada gunanya hidup dalam kesombongan karena itu semua tidak ada gunanya. cuma manusia yang tidak bersyukur yang melalaikan pemberian Allah SWT dan tidak mau mensyukuri nikmat itu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: