Peradaban Tauhid

Home » Ketuhanan

Ketuhanan

PEMERINTAHAN TUHAN, OTORITER?
Oleh Thariq Modanggu
Pemerhati Sosial-keagamaan
Agaknya, tidak salah kalau ada yang bilang “Tuhan itu otoriter” memang hanya Tuhanlah yang layak seperti itu. Tetapi, benarkah Tuhan itu Penguasa yang otoriter dalam sistem pemerintahan-Nya? Untuk membuka pemikiran kita, bukan jawaban benar-salah kita cari, tetapi yang paling penting adalah prosesnya atau, katakanlah “cara kerja Tuhan”.
Ketika Tuhan hendak menciptakan calon penghuni bumi, malaikat yang sebelumnya hanya sujud dan sangat patuh pada Tuhan, tiba-tiba berani nyeletuk, “buat apa Engkau menciptakan manusia yang hanya akan bikin kerusakan dan pertumpahan darah”. Mendapat kritikan ini, Tuhan tidak mentang-mentang karena Maha Kaya dan Berkuasa lantas marah-marah. Meski Tuhan serba-tahu bahasa-bahasa dunia, Ia tidak menjawab “what do you want?” atau “molawani olau tingoli?. Tuhan juga sebenarnya bisa saja menjawab, “Aku Yang Berkuasa atas segalanya”. Tetapi, Ia justru menjawab dengan penuh kearifan, “Aku mengetahui apa yang kamu tidak tahu”. Sebuah jawaban yang mengedepankan rasionalitas, bukan kekuatan apalagi harta dan kekuasaan!  Agaknya lantaran Tuhan menjawab secara amat sangat cerdas, maka tanpa neko-neko malaikat pun sujud kepada manusia (Adam). Sebaliknya, Iblis yang ketika itu sedang mengalami krisis identitas, berontak sambil berkilah, “untuk apa kami sujud kepada manusia yang berasal dari tanah”. Kalau saja iblis bisa sedikit saja menahan diri, maka mereka akan segera tahu bahwa meskipun secara kasar manusia berasal dari tanah, tetapi sesungguhnya ruh manusia berasal dari ruh Tuhan (wanafahktu fihi min ruuhi). Dan karena itulah manusia dipermaklumlan Tuhan sebagai makhluk yang unggul (fi ahsan al-takwin).
Pemerintahan Tuhan, dari sudut pandang struktural relatif punya persamaan dengan sistem pemerintahan manusia, yaitu Tuhan (Penguasa), Jibril cs. (aparat), Rasul/Nabi (para jubir), dan rakyat (malaikat, iblis cs. dan manusia). Bedanya, Tuhan sebagai Penguasa (Malik), tidak pernah mengibuli, membohongi, dan menipu aparat dan rakyatnya, apalagi korupsi. Begitu juga aparat-aparat-Nya. Tidak pernah menyalahgunakan wewenang dan kompetensinya. Tidak pernah KKN, apalagi menguras, mempolitisir, bikin pungutan-pungutan liar di jalanan dan di kantor-kantor.  Para Nabi dan Rasul sebagai “jubir” yang menghubungkan “ide-ide Langit” dan “kepentingan Bumi” tidak pernah memanipulasi berita atau informasi. Bagi mereka tidak berlaku semboyan di bumi “molao doi ilangi, molao habari oduhenga”.
Barangkali, satu-satunya kritik yang boleh dilontarkan terhadap pemerintahan Tuhan adalah tidak adanya sistem demokrasi, yaitu tidak ada unsur legislatif semacam DPR. Paling kurang, ada tiga alasan mengapa pemerintahan Tuhan tidak butuh sistem demokrasi seperti itu. Pertama, Tuhan adalah Pembuat Hukum Yang Adil dan Maha Tahu segala kebutuhan dan keinginan rakyat-Nya. Jangan heran Dia menyediakan segalanya di bumi; Ilmu, harta, kedudukan, wanita, sex, Madona, Inul Daratista, Anisa Bahar,  pop, rock, seriosa, dangdut, dan seterusnya. Seandainya Tuhan gila hormat dan makang-puji, pasti Ia hanya menciptakan yang baik-baik saja, yang kerjanya setiap saat hanya memuji dan sujud kepada-Nya. Ternyata memang, Tuhanlah Sang Demorat sejati.           Kedua, dalam kedudukannya sebagai control and balancing, secara filosofis sesungguhnya keberadaan DPR hanyalah mempermaklumkan bahwa aparat pemerintah (eksekutif) adalah orang-orang yang tidak amanah. Kalau memang aparat pemerintahan adalah orang-orang jujur dan amanah, menjalankan tugas sesuai sumpah jabatannya, maka untuk apa lembaga pengontrol, mubadzir!  Ketiga, sebenarnya dengan kekuasaannya, Tuhan bisa saja hanya memainkan kata kun, maka jadilah apa yang diinginkan-Nya. Tetapi sekali lagi, Ia tidak sok berkuasa. Ia justru memberdayakan aparat-aparatnya untuk bertugas dan berkarya sesuai TUPOKSI (Tugas Pokok dan Fungsi) masing-masing. Dan karena itu, legislatif tidak diperlukan, apalagi jika DPR justru tidak bisa mengontrol dirinya sendiri.
Okelah, Tuhan bukan manusia, manusia pun bukan Tuhan. Dalih ini tidak bisa dibantah memang. Tetapi, paling tidak, hari ini marilah kita mencoba membumikan secuil dari sistem pemerintahan Tuhan. Bekerja dan bersikap sesuai kewenangan (sumpah jabatan), meletakkan pemikiran yang sehat dan rasional di atas harta dan kekuasaan. Lantas, bagaimana dengan otoritas Tuhan menentukan nasib dan memasukkan seseorang ke sorga atau neraka? Nantikan kajian-kajian selanjutnya! Insya Allah.

PEMERINTAHAN TUHAN, OTORITER?

Otoriterkah engkau Tuhan?

Otoriterkah engkau Tuhan?

Agaknya, tidak salah kalau ada yang bilang “Tuhan itu otoriter” memang hanya Tuhanlah yang layak seperti itu. Tetapi, benarkah Tuhan itu Penguasa yang otoriter dalam sistem pemerintahan-Nya? Untuk membuka pemikiran kita, bukan jawaban benar-salah kita cari, tetapi yang paling penting adalah prosesnya atau, katakanlah “cara kerja Tuhan”.

Ketika Tuhan hendak menciptakan calon penghuni bumi, malaikat yang sebelumnya hanya sujud dan sangat patuh pada Tuhan, tiba-tiba berani nyeletuk, “buat apa Engkau menciptakan manusia yang hanya akan bikin kerusakan dan pertumpahan darah”. Mendapat kritikan ini, Tuhan tidak mentang-mentang karena Maha Kaya dan Berkuasa lantas marah-marah. Meski Tuhan serba-tahu bahasa-bahasa dunia, Ia tidak menjawab “what do you want?” atau “molawani olau tingoli?. Tuhan juga sebenarnya bisa saja menjawab, “Aku Yang Berkuasa atas segalanya”. Tetapi, Ia justru menjawab dengan penuh kearifan, “Aku mengetahui apa yang kamu tidak tahu”. Sebuah jawaban yang mengedepankan rasionalitas, bukan kekuatan apalagi harta dan kekuasaan!  Agaknya lantaran Tuhan menjawab secara amat sangat cerdas, maka tanpa neko-neko malaikat pun sujud kepada manusia (Adam). Sebaliknya, Iblis yang ketika itu sedang mengalami krisis identitas, berontak sambil berkilah, “untuk apa kami sujud kepada manusia yang berasal dari tanah”. Kalau saja iblis bisa sedikit saja menahan diri, maka mereka akan segera tahu bahwa meskipun secara kasar manusia berasal dari tanah, tetapi sesungguhnya ruh manusia berasal dari ruh Tuhan (wanafahktu fihi min ruuhi). Dan karena itulah manusia dipermaklumlan Tuhan sebagai makhluk yang unggul (fi ahsan al-takwin).

Pemerintahan Tuhan, dari sudut pandang struktural relatif punya persamaan dengan sistem pemerintahan manusia, yaitu Tuhan (Penguasa), Jibril cs. (aparat), Rasul/Nabi (para jubir), dan rakyat (malaikat, iblis cs. dan manusia). Bedanya, Tuhan sebagai Penguasa (Malik), tidak pernah mengibuli, membohongi, dan menipu aparat dan rakyatnya, apalagi korupsi. Begitu juga aparat-aparat-Nya. Tidak pernah menyalahgunakan wewenang dan kompetensinya. Tidak pernah KKN, apalagi menguras, mempolitisir, bikin pungutan-pungutan liar di jalanan dan di kantor-kantor.  Para Nabi dan Rasul sebagai “jubir” yang menghubungkan “ide-ide Langit” dan “kepentingan Bumi” tidak pernah memanipulasi berita atau informasi. Bagi mereka tidak berlaku semboyan di bumi “molao doi ilangi, molao habari oduhenga”.

Barangkali, satu-satunya kritik yang boleh dilontarkan terhadap pemerintahan Tuhan adalah tidak adanya sistem demokrasi, yaitu tidak ada unsur legislatif semacam DPR. Paling kurang, ada tiga alasan mengapa pemerintahan Tuhan tidak butuh sistem demokrasi seperti itu. Pertama, Tuhan adalah Pembuat Hukum Yang Adil dan Maha Tahu segala kebutuhan dan keinginan rakyat-Nya. Jangan heran Dia menyediakan segalanya di bumi; Ilmu, harta, kedudukan, wanita, sex, Madona, Inul Daratista, Anisa Bahar,  pop, rock, seriosa, dangdut, dan seterusnya. Seandainya Tuhan gila hormat dan makang-puji, pasti Ia hanya menciptakan yang baik-baik saja, yang kerjanya setiap saat hanya memuji dan sujud kepada-Nya. Ternyata memang, Tuhanlah Sang Demorat sejati.           Kedua, dalam kedudukannya sebagai control and balancing, secara filosofis sesungguhnya keberadaan DPR hanyalah mempermaklumkan bahwa aparat pemerintah (eksekutif) adalah orang-orang yang tidak amanah. Kalau memang aparat pemerintahan adalah orang-orang jujur dan amanah, menjalankan tugas sesuai sumpah jabatannya, maka untuk apa lembaga pengontrol, mubadzir!  Ketiga, sebenarnya dengan kekuasaannya, Tuhan bisa saja hanya memainkan kata kun, maka jadilah apa yang diinginkan-Nya. Tetapi sekali lagi, Ia tidak sok berkuasa. Ia justru memberdayakan aparat-aparatnya untuk bertugas dan berkarya sesuai TUPOKSI (Tugas Pokok dan Fungsi) masing-masing. Dan karena itu, legislatif tidak diperlukan, apalagi jika DPR justru tidak bisa mengontrol dirinya sendiri.

Okelah, Tuhan bukan manusia, manusia pun bukan Tuhan. Dalih ini tidak bisa dibantah memang. Tetapi, paling tidak, hari ini marilah kita mencoba membumikan secuil dari sistem pemerintahan Tuhan. Bekerja dan bersikap sesuai kewenangan (sumpah jabatan), meletakkan pemikiran yang sehat dan rasional di atas harta dan kekuasaan. Lantas, bagaimana dengan otoritas Tuhan menentukan nasib dan memasukkan seseorang ke sorga atau neraka? Nantikan kajian-kajian selanjutnya! Insya Allah.


6 Comments

  1. tawaf says:

    pak sebelum ruang dan waktu ada kira-kira tuhan itu di mana ? apa yang pak katakan itu itu memang benar adanya dan mereka juga sudah melupakan akal mereka sehinga mereka hampir mirip seperti binatang…………………

  2. Hendrik koli says:

    Pak, dr mana malaikat tau bhw manusia akn brbuat kerusakan ? Pdhl pd wkt itu manusia blm diciptakan akn ttp msh dlm bentuk info Tuhan kpd malaikat ?

  3. rezkey...... says:

    pak menurut sya than itu tdk maha kuasa…..mengapa???????kta manusia itu sesungguhnya akan masuk surga,,,,tpi krna tuhan masih menciptkan setan,tttiiiiiiii akhirnya banyak yang tergoda dan akhirnya akan masuk neraka….kata orang TUHAN itu maha PENYAYANG.inikan bentuk sayangNYA tuhan?????????

    • Pemikiran balik yang cukup kritis. Tetapi untuk mengukur kasih sayang Tuhan,
      maka sebaliknya kita mencermati ke dalam diri kita “apa” dan “bagaimana” sesungguhnya
      diri kita maka disitulah kita akan menemukan salah satu bentuk kasih Sayang Tuhan

      makasih atas komentarnya
      Wassalam

  4. Pemulung Gorontalo says:

    Tuhan Bukan hanya Otoriter,,,,,tapi tuhan juga Tidak Konsisten, Penghasut,,,,,,

    mohon maaf……ini hanya pendapat saya…..

    TUHAN – TUHAN YANG DULU ,,,,SUDAH MEMILIKI TUHAN-TUHAN BARU

  5. Momy Hunowu says:

    jika Tuhan memerintah dengan otoriter, mungkin itu wajar saja… bukankah Tuhan maha penguasa kepada seluruh alam? tetapi yang lucu adalah hamba-hamba Allah yang memerintah secara otoriter di bumi Allah……

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: